
MERAUKE – Polemik yang mengiringi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita kembali berkembang. Keluarga Yasinta Moiwend atau yang dikenal sebagai Mama Sinta mengaku sempat kehilangan kontak dengan tokoh adat Papua tersebut sebelum munculnya laporan terhadap pihak yang terlibat dalam film ke Polda Metro Jaya.
Pernyataan itu disampaikan keluarga melalui rekaman video yang diterima media. Dalam keterangannya, keluarga menyebut komunikasi terakhir dengan Mama Sinta terjadi pada Sabtu, 23 Mei 2026, saat video pernyataan Mama Sinta mulai beredar di media sosial.
Menurut keluarga, sejak Minggu, 24 Mei 2026, Mama Sinta tidak lagi dapat dihubungi. Keluarga mengaku berupaya mencari informasi mengenai keberadaannya, namun tidak memperoleh kepastian selama beberapa hari.
Keluarga juga mengungkapkan dugaan bahwa Mama Sinta sempat berada di wilayah Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, sebelum kemudian berpindah ke lokasi lain. Mereka mengaku tidak mengetahui secara pasti proses perjalanan Mama Sinta hingga akhirnya diketahui berada di Jakarta.
Dalam pernyataan tersebut, keluarga menduga adanya pihak-pihak tertentu yang mempengaruhi atau mengarahkan langkah Mama Sinta. Namun, hingga kini dugaan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan belum ada tanggapan resmi dari pihak yang disebut dalam pernyataan keluarga.
Keluarga mengaku baru mengetahui bahwa Mama Sinta telah melaporkan pihak terkait film Pesta Babi ke Polda Metro Jaya setelah informasi tersebut beredar luas di publik.
Atas situasi tersebut, keluarga meminta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komnas HAM, Komnas Perempuan, serta berbagai pihak terkait untuk turut mengawal kondisi Mama Sinta dan memastikan keselamatan serta kebebasannya dalam menyampaikan pendapat.
“Kami keluarga merasa kehilangan kontak dengan Mama dan berharap dapat segera berkomunikasi langsung dengannya,” demikian inti pernyataan yang disampaikan keluarga.
Sebelumnya, Mama Sinta yang dikenal sebagai tokoh masyarakat adat Malind Anim dan pejuang lingkungan di Papua Selatan melaporkan pihak yang terlibat dalam produksi film Pesta Babi. Ia menyatakan keberatan karena wajah dan suaranya ditampilkan dalam film tersebut.
Menanggapi laporan tersebut, tim kolaborasi film yang terdiri dari sejumlah organisasi masyarakat sipil menyatakan menghormati langkah hukum yang ditempuh Mama Sinta serta berharap persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan proses hukum yang berlaku.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak yang disebut dalam dugaan keluarga terkait keberadaan dan perpindahan Mama Sinta sebelum laporan ke polisi dilakukan.