
PONTIANAK – Tokoh muda Dayak Kalimantan Barat, Noven Honarius, kembali menyampaikan penjelasannya terkait pernyataan yang sebelumnya memicu perdebatan mengenai Pekan Gawai Dayak. Dalam video terbaru yang beredar di media sosial, Noven menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menolak tradisi Gawai Dayak, melainkan menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai “ganjur” yang menurutnya semakin terlihat dalam pelaksanaan Pekan Gawai Dayak beberapa tahun terakhir.
Menurut Noven, Gawai Dayak merupakan tradisi luhur masyarakat Dayak yang lahir dari budaya berladang sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen. Karena itu, ia menilai marwah dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya harus tetap dijaga.
Ia mengaku prihatin karena berbagai fenomena negatif yang muncul saat Pekan Gawai Dayak justru lebih sering menjadi perhatian publik dibandingkan pertunjukan seni, budaya, prestasi generasi muda, maupun karya-karya kreatif masyarakat Dayak.
“Saya bukan berbicara tentang Gawai Dayak sebagai tradisi. Yang saya soroti adalah fenomena ganjur yang hari ini mulai mengubah cara pandang orang terhadap sebuah acara yang dulunya sangat sakral,” ujarnya.
Noven menilai berbagai kejadian yang kerap viral di media sosial, seperti mabuk-mabukan, keributan, hingga insiden yang mencoreng citra kegiatan budaya, perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurutnya, jangan sampai fenomena tersebut lebih dikenal masyarakat luas dibandingkan kekayaan budaya, seni, dan nilai luhur yang selama ini menjadi identitas Gawai Dayak.
Meski demikian, ia menegaskan dirinya tidak anti terhadap hiburan maupun suasana meriah dalam perayaan budaya. Namun ia berharap seluruh pihak dapat bersama-sama mengembalikan Pekan Gawai Dayak pada esensi utamanya sebagai ruang pelestarian budaya, pendidikan generasi muda, dan kebanggaan masyarakat Dayak.
“Mari kita kembalikan kepada yang sebenarnya. Budaya Dayak terlalu berharga untuk dikenal karena hal-hal yang bukan menjadi nilai utamanya,” kata Noven.