
PONTIANAK – Tokoh muda Dayak Kalimantan Barat, Noven Honarius, menyampaikan keprihatinannya terhadap pelaksanaan Pekan Gawai Dayak yang menurutnya perlu dievaluasi agar tetap menjadi sarana pelestarian budaya dan pembentukan karakter generasi muda Dayak.
Menurut Noven, Gawai Dayak pada hakikatnya merupakan perayaan syukur, pelestarian budaya, serta ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal adat istiadat, sejarah, ritual, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur. Namun, ia menilai sebagian pelaksanaan kegiatan saat ini mulai bergeser dari tujuan utamanya.
“Sebagai generasi muda Dayak, saya berharap Gawai Dayak kembali menempatkan budaya sebagai pusat perhatian. Jangan sampai orang lebih mengenal Gawai karena mabuk-mabukan, perkelahian, atau berbagai perilaku negatif lainnya daripada karena kekayaan budaya yang kita miliki,” ujar Noven.
Ia menyoroti bahwa setiap tahun masyarakat sering menyaksikan kasus keributan dan perkelahian yang terjadi di sekitar pelaksanaan Gawai. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya menyalahkan pelaku yang terlibat.
“Jika ditelusuri, perkelahian sering berawal dari mabuk. Mabuk berawal dari konsumsi alkohol berlebihan. Sementara alkohol tetap banyak beredar karena ada permintaan dari pengunjung dan menjadi salah satu sumber keuntungan ekonomi selama acara berlangsung. Artinya, ada rantai persoalan yang perlu dibahas secara jujur dan terbuka,” katanya.
Noven mengakui bahwa para pelaku usaha dan pemilik stan juga memiliki tantangan tersendiri. Dengan biaya sewa yang tidak murah, mereka tentu berharap memperoleh keuntungan atau setidaknya mengembalikan modal selama pelaksanaan acara. Namun menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh membuat masyarakat menutup mata terhadap dampak sosial yang muncul.
Ia menilai dampak konsumsi alkohol berlebihan tidak hanya memicu perkelahian, tetapi juga menyebabkan sebagian orang kehilangan kendali terhadap emosi dan perilaku. Dalam kondisi tersebut, tidak sedikit yang melakukan tindakan yang tidak pantas di ruang publik, mengabaikan norma kesopanan, hingga menciptakan citra negatif terhadap perayaan budaya itu sendiri.
Selain itu, Noven juga menyoroti berbagai konten yang beredar di media sosial selama pelaksanaan Gawai Dayak. Menurutnya, unggahan yang menampilkan perilaku mabuk, kata-kata tidak pantas, maupun tindakan yang kurang terpuji berpotensi membentuk persepsi negatif terhadap masyarakat Dayak di mata publik.
“Generasi muda seharusnya memanfaatkan momentum Gawai untuk belajar tentang budaya, bukan sekadar mencari hiburan. Budaya Dayak memiliki filosofi, nilai, dan kearifan yang sangat kaya untuk diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Meski demikian, Noven menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya bukan bertujuan untuk menyerang pihak tertentu ataupun menghilangkan kemeriahan Gawai Dayak. Menurutnya, kritik merupakan bentuk kepedulian agar kegiatan budaya tersebut terus berkembang menjadi lebih baik.
“Sebagian orang mungkin menganggap kritik seperti ini berlebihan, sok mengatur, atau sok tahu. Itu adalah risiko dari setiap upaya perubahan. Namun jika tujuan kita menjaga marwah budaya dan membuat Gawai semakin baik dari tahun ke tahun, maka kritik dan evaluasi tidak boleh dianggap sebagai musuh,” katanya.
Ia mengajak penyelenggara, pemangku adat, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, serta generasi muda untuk bersama-sama melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Pekan Gawai Dayak tanpa menghilangkan nilai budaya dan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Dayak.
Menurut Noven, menjaga budaya bukan hanya tentang mempertahankan seremoni dan tradisi, tetapi juga menjaga nilai, etika, dan martabat yang terkandung di dalamnya.
“Jika suatu hari minuman keras lebih dicari daripada pertunjukan budaya, maka kita perlu bertanya apakah Gawai masih memimpin keramaian, atau justru keramaian yang mulai mengubah makna Gawai. Ini bukan soal melarang hiburan, tetapi bagaimana memastikan budaya tetap menjadi yang utama,” pungkasnya.
((kdk/red)