
PONTIANAK – Musisi dan pegiat budaya Dayak, Petrus yang dikenal dengan nama panggung Tajur Pantulak, menyampaikan tanggapannya terkait pernyataan yang mengusulkan evaluasi bahkan penghentian Pekan Gawai Dayak apabila dinilai tidak lagi memberikan manfaat bagi generasi muda.
Menurut Tajur Pantulak, persoalan seperti mabuk-mabukan, keributan, dan tindakan negatif yang kerap muncul saat pelaksanaan Gawai memang perlu menjadi perhatian bersama. Namun, ia menilai solusi yang tepat bukanlah menghentikan kegiatan budaya tersebut, melainkan memperbaiki akar permasalahannya.
“Kalau ada masalah, yang dicari seharusnya solusinya. Jangan karena ada oknum yang mabuk dan membuat keributan, lalu Pekan Gawai Dayaknya yang disalahkan atau bahkan dihentikan,” ujarnya.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti sebuah pohon yang tidak tumbuh dengan baik karena diserang hama. Menurutnya, yang perlu dilakukan adalah mencari penyebab dan mengatasi hambatannya, bukan mencabut pohon yang sudah tumbuh dan memberi manfaat.
“Pohon yang sakit bukan berarti harus ditebang. Yang dicari adalah hamanya. Begitu juga dengan Gawai Dayak. Yang perlu dibenahi adalah masalah yang muncul di dalamnya, bukan menghilangkan kegiatan budayanya,” katanya.
Tajur Pantulak menilai Pekan Gawai Dayak telah menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya Dayak selama bertahun-tahun. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat memperkenalkan adat istiadat, seni, bahasa, dan tradisi Dayak kepada generasi muda maupun masyarakat luas.
Meski demikian, ia mengaku tidak mendukung budaya mabuk-mabukan dan perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Menurutnya, konsumsi alkohol berlebihan yang berujung pada keributan memang harus menjadi perhatian serius penyelenggara dan seluruh pihak terkait.
“Saya juga tidak suka melihat orang mabuk. Dari cara bicara sampai perilakunya sering kali tidak baik. Itu bukan sesuatu yang patut ditiru atau dijadikan gaya hidup oleh generasi muda,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong adanya pengawasan yang lebih ketat, peningkatan keamanan, serta langkah-langkah konkret untuk meminimalkan dampak negatif yang terjadi selama pelaksanaan Gawai.
Menurut Tajur Pantulak, evaluasi tetap diperlukan, tetapi fokusnya harus pada perbaikan sistem, pengelolaan acara, dan pembinaan pengunjung agar Pekan Gawai Dayak tetap menjadi ruang pelestarian budaya yang membanggakan.
“Budaya Dayak adalah warisan leluhur yang harus dijaga. Kalau ada kekurangan, mari kita perbaiki bersama. Cari solusinya, bukan menghentikan Gawainya,” pungkasnya.
(kdk/red)