
KALIMANTAN BARAT – Sebuah video yang menampilkan sejumlah warga pedalaman di wilayah Kayan Hulu, Kalimantan Barat, menjadi perbincangan di media sosial. Dalam video tersebut, warga menyampaikan berbagai keluhan terkait kondisi pembangunan yang mereka nilai masih tertinggal dibandingkan daerah lain di Indonesia.
Melalui pernyataan yang disampaikan secara terbuka, warga menyatakan dukungan kepada Noven Honorius Lumung Tela yang sebelumnya menyuarakan kritik terhadap pemerintah pusat mengenai ketimpangan pembangunan di wilayah pedalaman Kalimantan.
Dalam video itu, warga menyoroti keterbatasan akses infrastruktur dasar. Mereka mengaku masih harus menempuh perjalanan melalui jalur sungai selama empat hingga tujuh hari pada musim kemarau untuk mencapai kampung mereka. Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan belum tersedianya akses listrik dan jaringan telekomunikasi yang memadai di sejumlah wilayah pedalaman.
Warga juga menyinggung tingginya harga kebutuhan pokok, termasuk bahan bakar minyak yang disebut dapat mencapai lebih dari Rp35.000 per liter dan LPG 3 kilogram yang mencapai sekitar Rp80.000 per tabung akibat sulitnya distribusi ke daerah terpencil.
Dalam pernyataan tersebut, sejumlah warga turut mengibarkan simbol budaya Dayak sebagai bentuk penyampaian aspirasi dan protes atas kondisi yang mereka alami. Mereka mendesak pemerintah untuk memberikan perhatian serius terhadap pembangunan akses jalan, transportasi, listrik, dan layanan dasar lainnya bagi masyarakat pedalaman Kalimantan.
Video tersebut terus beredar luas di berbagai platform media sosial dan memicu beragam tanggapan dari masyarakat. Hingga berita ini ditulis, belum terdapat pernyataan resmi dari pemerintah terkait tuntutan yang disampaikan dalam video tersebut.
