
KALIMANTAN BARAT – Di tengah memburuknya situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda Kalimantan Barat, puluhan organisasi masyarakat sipil, jurnalis, mahasiswa, petani, dan buruh membentuk Posko Bantuan Karhutla dan Bencana Asap sebagai bentuk solidaritas bagi relawan pemadam dan masyarakat terdampak.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan per 29 Agustus 2026 pukul 23.59 WIB, Kalimantan Barat mencatat 6.526 titik panas. Jumlah tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan hari sebelumnya yang tercatat 3.384 titik panas. Kalimantan Barat kini menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak kedua di Indonesia setelah Kalimantan Tengah.
Situasi diperparah oleh menurunnya kualitas udara. Pemantauan IQAir pada Minggu (30/8/2026) menunjukkan Indeks Kualitas Udara (AQI) di Pontianak mencapai angka 987 dengan polutan utama PM2.5 sebesar 570 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut menempatkan Pontianak sebagai salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada hari itu.

Dalam siaran pers yang diterima media, Link-AR Borneo menyebut dampak karhutla tahun ini tidak hanya mengancam kawasan hutan dan lahan gambut, tetapi juga telah merambah ke permukiman warga. Sejumlah keluarga dilaporkan terpaksa mengungsi akibat api yang mendekati bahkan mengancam kawasan tempat tinggal mereka.
Selain mengancam keselamatan masyarakat, kebakaran juga berdampak pada habitat satwa liar, termasuk orangutan, serta mempercepat kerusakan ekosistem di Kalimantan Barat. Sejumlah titik panas juga terpantau berada di dalam maupun berbatasan dengan area konsesi perusahaan perkebunan dan kehutanan berskala besar.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Posko Bantuan Karhutla dan Bencana Asap kini telah dibuka di tiga wilayah, yakni Pontianak, Singkawang, dan Sambas. Direktur Link-AR Borneo menyampaikan bahwa jaringan posko akan terus diperluas seiring bertambahnya organisasi dan relawan yang bergabung dalam gerakan kemanusiaan ini.
Koordinator Posko Bantuan Karhutla dan Bencana Asap, Erni Damayanti, mengatakan bantuan yang dihimpun akan diprioritaskan untuk mendukung relawan di garis depan pemadaman serta masyarakat yang terdampak langsung oleh bencana asap.
Berbagai kebutuhan mendesak yang saat ini diperlukan antara lain nebulizer, masker dewasa dan anak, air bersih, air mineral, oxycan, obat-obatan, vitamin, air purifier, sembako, alat pelindung diri (APD), hingga peralatan pemadam kebakaran.
Hingga saat ini, sebanyak 21 organisasi telah bergabung dalam gerakan solidaritas tersebut, di antaranya Link-AR Borneo, AGRA Kalbar, GSBI Kalbar, XR Pontianak, SIEJ, Kolase, LBH Pontianak, FSPBR, KPBI Kalbar, BEM Untan, AJI Pontianak, BEM Sylva Untan, IJTI Kalbar, BEM FISIP Untan, Pontianak Boys, Kami Dayak Kalbar, KASBI, Paramedis Jalanan, BEM Hukum Untan, dan BEM FMIPA Untan.
Menurut para penggagas gerakan, karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga berdampak pada kesehatan, pendidikan, ekonomi, keselamatan permukiman, serta keberlangsungan hidup satwa liar. Karena itu, mereka mengajak masyarakat untuk turut ambil bagian membantu korban dan relawan yang masih berjibaku memadamkan api di berbagai wilayah Kalimantan Barat.
“Ketika api belum sepenuhnya padam, setidaknya ada satu hal yang tidak boleh ikut terbakar: solidaritas. Asap boleh mengepung Kalimantan Barat, tetapi misi kemanusiaan tidak boleh menyerah,” demikian pernyataan dalam siaran pers tersebut.
