
SAMPIT – Gelombang penutupan usaha kuliner mulai terasa di sejumlah titik di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.Dalam beberapa bulan terakhir, banyak pelaku usaha kecil menengah (UMKM) di sektor makanan dan minuman terpaksa gulung tikar akibat menurunnya daya beli masyarakat dan meningkatnya biaya operasional.
Sejumlah pedagang mengaku mengalami penurunan omset hingga lebih dari 50 persen. Kondisi ini membuat mereka kesulitan menutup biaya bahan baku, sewa tempat, hingga gaji karyawan.
Tak sedikit pula yang mencoba bertahan dengan memberikan promo dan diskon, namun upaya tersebut belum mampu mendongkrak penjualan secara signifikan.“Sudah berbagai cara kami lakukan, mulai dari diskon sampai jual online, tapi tetap sepi,” ujar salah satu pelaku usaha kuliner di pusat kota.
Data sementara menunjukkan puluhan usaha kuliner di wilayah Sampit berhenti beroperasi dalam kurun waktu terakhir. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah persaingan usaha yang semakin ketat serta perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini lebih selektif dalam membelanjakan uang.
Pemerintah daerah melalui dinas terkait menyatakan akan melakukan pendataan dan evaluasi terhadap kondisi ini. Selain itu, upaya pembinaan dan pelatihan bagi pelaku UMKM juga akan ditingkatkan, termasuk dorongan pemanfaatan platform digital untuk memperluas pasar.
Pengamat ekonomi lokal menilai, situasi ini perlu segera ditangani dengan langkah konkret, seperti pemberian insentif usaha, kemudahan akses permodalan, serta penguatan promosi produk lokal.Jika tidak ada langkah cepat dan tepat, dikhawatirkan semakin banyak pelaku usaha kuliner di Sampit yang akan mengalami nasib serupa, yang pada akhirnya berdampak pada meningkatnya angka pengangguran di daerah tersebut.