
KALIMANTAN BARAT — Hilangnya akun Instagram Relawan Simpang Hulu yang sebelumnya digunakan untuk menyampaikan informasi dan perkembangan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memunculkan keresahan di kalangan pegiat lingkungan. Peristiwa ini menjadi perhatian karena terjadi ketika persoalan karhutla dan kabut asap masih menjadi sorotan masyarakat Kalimantan.
Dalam rekaman video yang beredar, Plorentina Dessy Elma Thyana, aktivis lingkungan, pegiat budaya Dayak, sekaligus pendiri Sekolah Adat Arus Kualan, mengungkapkan keterkejutannya setelah mendapati akun Instagram Relawan Simpang Hulu tidak lagi menampilkan unggahan maupun pengikut seperti sebelumnya.
Ia menyampaikan bahwa akun tersebut selama ini digunakan untuk membagikan informasi mengenai kondisi lingkungan dan menyuarakan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Kami ingin bersuara, menjaga rumah, sumber makanan, bahkan nyawa,” demikian inti pesan yang disampaikannya dalam video tersebut.
Bagi para pegiat lingkungan, media sosial bukan sekadar tempat mengunggah konten. Platform digital telah menjadi salah satu sarana penting untuk menyebarkan informasi, mendokumentasikan kondisi lapangan, membangun kepedulian publik, dan mendorong pihak berwenang mengambil tindakan.
Jika Suara Menghilang, Siapa yang Mengawasi?
Hilangnya akun tersebut memunculkan pertanyaan yang patut dijawab: apakah akun mengalami gangguan teknis, terkena pembatasan platform, diretas, atau ada faktor lain yang menyebabkannya tidak dapat diakses sebagaimana mestinya?
Hingga informasi yang tersedia saat ini, penyebab hilangnya akun belum dapat dipastikan. Karena itu, tidak tepat untuk langsung menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut merupakan bentuk pembungkaman atau mengaitkannya dengan pihak tertentu tanpa bukti.
Namun, ketidakpastian itu bukan alasan untuk mengabaikan persoalan. Pengelola platform perlu memberikan kejelasan melalui mekanisme pengaduan yang tersedia apabila ditemukan indikasi kesalahan sistem atau pembatasan akun yang tidak semestinya.
Sebab, jika akun yang menyuarakan persoalan publik mendadak menghilang, masyarakat berhak mempertanyakan apa yang terjadi dan menuntut kejelasan.
Jangan sampai ruang digital yang seharusnya menjadi tempat masyarakat menyampaikan aspirasi justru membuat para pegiat lingkungan merasa takut untuk berbicara.
Karhutla Bukan Sekadar Persoalan Asap
Di balik perdebatan mengenai akun media sosial, ada persoalan yang jauh lebih besar: keselamatan masyarakat yang terdampak karhutla dan kabut asap.
Udara yang tercemar dapat mengancam kesehatan, terutama bagi anak-anak, bayi, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan. Kebakaran juga mengancam habitat satwa, merusak ekosistem, serta mengganggu kehidupan masyarakat yang bergantung pada hutan dan lahan.
Karena itu, perhatian publik tidak boleh berhenti pada polemik hilangnya akun. Pemerintah, aparat penegak hukum, perusahaan pemegang izin, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan penyebab kebakaran ditelusuri, sumber pencemaran ditangani, dan pihak yang terbukti bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum.
Penanganan karhutla juga harus berdasarkan bukti. Praktik perladangan tradisional tidak boleh serta-merta disamakan dengan kebakaran yang tidak terkendali. Setiap sumber api perlu diperiksa secara objektif, tanpa prasangka dan tanpa tebang pilih.
Hilang Satu, Tumbuh Seribu!
Pesan yang disampaikan Plorentina menjadi pengingat bahwa perjuangan menjaga lingkungan tidak boleh bergantung pada satu akun atau satu orang.
Jika akun tidak dapat dipulihkan, masih ada media lain untuk menyampaikan informasi. Jika satu saluran terhenti, masyarakat dapat membangun saluran komunikasi baru dengan tetap mengedepankan fakta, keselamatan, dan tanggung jawab.
Hilang satu, tumbuh seribu. Bukan ajakan untuk menyerang siapa pun, melainkan seruan agar kepedulian masyarakat tidak mudah dipadamkan oleh ketidakpastian.
Kalimantan membutuhkan lebih banyak orang yang berani berbicara berdasarkan fakta, bukan lebih banyak orang yang memilih diam karena takut.
Kini, pertanyaan pentingnya bukan hanya mengapa akun Relawan Simpang Hulu menghilang, tetapi juga bagaimana memastikan persoalan karhutla tetap mendapat perhatian dan suara masyarakat tetap terlindungi. (*/kdk)