
Pontianak, Kalbar — Kasus meninggalnya Serda (Anumerta) Rafael Tetelo Luna, prajurit TNI AD asal Kabupaten Sekadau, terus menyita perhatian publik. Tokoh adat Dayak, Agustinus (Agus Landy), yang merupakan pengurus Dewan Adat Dayak, Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat, dan Dewan Adat Dayak Kota Pontianak, menyampaikan sikap tegas terkait peristiwa tersebut.
Menurut Agustinus, kepergian almarhum Rafael bukan hanya duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga menjadi luka bagi rasa keadilan masyarakat. Ia menegaskan perlunya kejernihan informasi di tengah simpang siur penyebab kematian demi menegakkan kebenaran.
Ia menyatakan, apabila hasil penyelidikan membuktikan almarhum meninggal karena bunuh diri, maka hal tersebut harus menjadi momentum evaluasi serius terhadap aspek kesehatan mental dan beban psikis prajurit. Namun, jika ditemukan adanya unsur kekerasan, penganiayaan, atau tindakan tidak manusiawi, Agustinus mengutuk keras perbuatan tersebut tanpa kompromi.
Agustinus mendesak Komandan Polisi Militer Kodam XII/Tanjungpura untuk melakukan investigasi ulang secara independen dan transparan, mengusut dugaan tekanan terhadap keluarga, serta menjamin keterbukaan hasil penyelidikan kepada publik dan keluarga almarhum.