
LANDAK — Di tengah kondisi kemarau dan kabut asap yang telah berlangsung lebih dari satu bulan, warga Dusun Belangiran, Desa Kumpang Tengah, Kecamatan Sebangki, Kabupaten Landak, menggelar ritual adat bapinta sebagai bentuk ikhtiar secara kearifan lokal untuk memohon turunnya hujan.
Ritual tersebut dilaksanakan di tempat yang dikenal masyarakat setempat sebagai Keramat Nek Panyakng. Kegiatan diikuti sekitar 25 warga dan dipimpin oleh Imam Panyangahatn bersama juru kunci keramat.
Menurut keterangan warga, bapinta merupakan ritual adat dan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat Dayak. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa melalui tata cara dan kearifan lokal yang diwariskan oleh nenek moyang.
“Bapinta secara kearifan lokal agar turun hujan. Ini merupakan adat dan tradisi yang sudah turun-temurun dari nenek moyang kami orang Dayak,” demikian keterangan warga.
Warga berharap hujan segera turun sehingga kondisi kemarau dapat berakhir dan kabut asap yang telah mengganggu aktivitas masyarakat dapat berkurang.
Bagi masyarakat setempat, ritual bapinta bukan sekadar kegiatan adat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya serta hubungan masyarakat dengan alam dan lingkungan di tengah kondisi yang sedang dihadapi.
