
PONTIANAK — Sebuah lagu yang telah menjadi bagian dari ingatan musikal masyarakat Kalimantan Barat kembali mendapat ruang di tengah generasi baru. “Patamuan Dara Basule”, lagu daerah berbahasa Dayak Kanayatn ciptaan Alfino DJ yang pertama kali dirilis pada 2004, kini hadir dalam wajah baru melalui kolaborasi CukSen dan Sarri Basule.
Versi terbaru bertajuk “Patamuan Dara Basule (Reimagined)” mulai dirilis pada 9 September 2026 dan dapat didengarkan melalui berbagai platform streaming digital.
Karya ini bukan sekadar menghadirkan kembali lagu lama. CukSen mencoba membawa tembang yang lekat dengan kebudayaan Dayak Kanayatn tersebut ke ruang dengar yang lebih dekat dengan generasi masa kini, tanpa menghilangkan akar budaya yang melekat di dalamnya.
“Patamuan Dara Basule” selama ini dikenal luas di Kalimantan Barat dan kerap terdengar dalam berbagai perhelatan adat maupun kebudayaan. Lagu tersebut hadir dalam kegiatan seperti Naik Dango dan Pekan Gawai Dayak, termasuk berbagai kegiatan kebudayaan berskala lebih kecil.
Kini, setelah lebih dari dua dekade sejak pertama kali diperkenalkan, lagu tersebut kembali dengan pendekatan musikal yang berbeda.
CukSen menggabungkan alternative rock dan hip-hop dalam aransemen baru. Perubahan tersebut memberikan energi yang lebih dinamis dan modern, sekaligus menjadi upaya memperkenalkan kembali karya lokal kepada pendengar yang mungkin belum mengenalnya.
Yang membuat versi ini semakin menarik adalah konsep dwi bahasa. CukSen membawakan bagian lagu dalam terjemahan bahasa Indonesia, sedangkan Sarri Basule tetap mempertahankan lirik asli dalam bahasa Dayak Kanayatn.
Dengan konsep tersebut, pendengar mendapatkan dua pengalaman sekaligus: memahami pesan lagu melalui bahasa Indonesia dan tetap merasakan karakter serta keautentikan bahasa daerah melalui bagian yang dinyanyikan Sari Basule.
CukSen mengatakan, ketertarikannya menggarap ulang lagu tersebut berangkat dari kekagumannya terhadap melodi dan lirik “Patamuan Dara Basule”.
“Lagu ini sangat legendaris dan familiar bagi masyarakat Kalimantan Barat. Selain nadanya yang indah, liriknya juga punya daya pikat tersendiri. Saya ingin membawanya kembali ke permukaan agar generasi muda bisa mengapresiasi karya ini dengan nuansa yang lebih segar,” ujar CukSen.
Dari sisi cerita, “Patamuan Dara Basule” membawa pesan tentang getaran jatuh cinta pada pandangan pertama yang terus terngiang. Dalam kisah tersebut, alam digambarkan seolah turut memberikan restu atas pertemuan yang terjadi.
Proses produksi lagu dilakukan di Pontianak bersama produser musik Sam Carlost. Penerjemahan lirik dikerjakan CukSen bersama Nichan, sementara Melano terlibat sebagai session guitarist untuk memperkuat warna alternative rock dalam aransemen.
Kolaborasi ini juga mempertemukan dua generasi dalam satu karya. CukSen merupakan penyanyi sekaligus penulis lagu independen yang mulai berkarier sejak 2020 dan dikenal mengeksplorasi unsur budaya lokal dalam musiknya. Sebelumnya, ia juga pernah mengangkat tradisi Arakan Naga dan Cap Go Meh Pontianak melalui salah satu karyanya.
Sementara itu, Sarri Basule telah menekuni dunia musik sejak 2004. Ia dikenal sebagai penyanyi lagu daerah asal Kalimantan Barat yang hingga kini masih aktif mengisi panggung kebudayaan Dayak dan membuka ruang kolaborasi bersama musisi muda.
Sarri Basule — suara yang membawa lagu Dayak Kalimantan Barat lintas generasi.
Mulai 9 September 2026, “Patamuan Dara Basule (Reimagined)” menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini: sebuah lagu yang lahir dari akar budaya Dayak Kanayatn, tetapi kini diberi ruang untuk didengar kembali dengan bahasa musik generasi baru.
Bukan untuk menggantikan versi lama, melainkan untuk memastikan karya yang telah melekat dalam perjalanan kebudayaan Kalimantan Barat tersebut tetap menemukan pendengarnya di zaman yang terus berubah.
