
KDK NEWS, PONTIANAK – Video Maudy Ayunda berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News” menjadi perbincangan luas di media sosial. Konten yang membahas cara menjaga kesehatan pikiran di tengah derasnya kabar buruk tersebut memunculkan beragam respons dari warganet.
Sejumlah kritik muncul karena sebagian masyarakat menilai tidak semua orang memiliki pilihan untuk mengambil jarak dari kabar buruk. Perdebatan itu kemudian semakin ramai setelah Maudy memberikan klarifikasi dan menyampaikan permintaan maaf.
Dalam klarifikasinya, Maudy mengakui ada satu hal penting yang belum cukup ia tekankan dalam video awal, yakni bahwa kemampuan untuk menjauh dari pemberitaan juga dapat menjadi sebuah privilese. Ia menjelaskan bahwa tidak semua orang bisa mengambil jarak ketika persoalan yang diberitakan berkaitan langsung dengan kehidupan mereka.
Persoalan tersebut menjadi menarik ketika ditempatkan dalam konteks masyarakat Kalimantan yang saat ini menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan.
Di Kalimantan, “Bad News” Bisa Berarti Asap di Rumah
Bagi sebagian warga Kalimantan, berita mengenai karhutla bukan sekadar informasi yang muncul di layar telepon.
Asap bisa masuk ke rumah.
Jarak pandang bisa menurun.
Aktivitas masyarakat terganggu.
Anak-anak harus berhadapan dengan udara yang tidak sehat.
Dan bagi sebagian warga yang berada dekat lokasi kebakaran, persoalannya bukan lagi apakah mereka ingin membaca berita buruk atau tidak. Mereka berada di tengah-tengah persoalan tersebut.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bahkan memperpanjang status tanggap darurat bencana asap akibat karhutla hingga 20 September 2026, dengan penanganan masih dilakukan oleh satgas darat dan udara.
Pada 8 September, Pemprov Kalbar menyebut indikasi luas area yang terbakar sepanjang penanganan karhutla mencapai sekitar 38.310 hektare, meskipun area yang masih terbakar saat itu dilaporkan telah turun menjadi sekitar 200 hektare.
Kementerian Kehutanan juga mencatat pada 10 September masih terdapat 39 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat. Pemerintah menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan dan tetap membutuhkan verifikasi lapangan.
Ketika Asap Tidak Bisa Di-Mute
Di tengah situasi tersebut, konsep mindfulness menjadi persoalan yang menarik untuk dilihat dari perspektif masyarakat di lapangan.
Seseorang yang merasa lelah melihat berita buruk mungkin dapat memilih untuk mematikan notifikasi, berhenti membuka media sosial atau mengambil waktu untuk menenangkan diri.
Namun, bagaimana dengan warga yang membuka pintu rumah dan langsung mencium asap?
Bagaimana dengan orang tua yang harus memikirkan kesehatan anaknya ketika kualitas udara memburuk?
Bagaimana dengan relawan yang setiap hari berada di lapangan?
Atau masyarakat yang aktivitas ekonominya ikut terganggu karena kebakaran dan kabut asap?
Bagi mereka, bad news bukan hanya sesuatu yang dibaca.
Bad news bisa menjadi sesuatu yang dihirup.
Realitas tersebut bahkan mendapat perhatian internasional. Reuters melaporkan pada 16 September bahwa kabut asap akibat kebakaran di Indonesia berdampak serius terhadap kualitas udara di Pulau Borneo, termasuk Kalimantan Barat. Laporan tersebut juga mencatat peningkatan tajam kasus gangguan pernapasan yang berkaitan dengan kebakaran.
Mindfulness dan Kepedulian Tidak Harus Berlawanan
Di sisi lain, mengambil jeda dari arus informasi tidak otomatis berarti seseorang tidak peduli terhadap persoalan sosial.
Menjaga kondisi mental juga dapat menjadi bagian dari kemampuan seseorang untuk tetap berpikir jernih dan bertindak.
Persoalannya adalah konteks.
Pesan tentang menjaga kesehatan mental bisa memiliki makna berbeda bagi orang yang sedang berada dalam kondisi aman dibandingkan bagi masyarakat yang sedang menghadapi dampak langsung sebuah krisis.
Karena itu, polemik video Maudy Ayunda sebenarnya membuka percakapan yang lebih luas: bagaimana cara menjaga diri tanpa kehilangan kepedulian terhadap lingkungan sosial di sekitar kita?
Maudy sendiri dalam klarifikasinya telah mengakui adanya dimensi privilese tersebut dan meminta maaf atas bagian pesan yang dinilai kurang sensitif terhadap pengalaman orang lain.
Dari Kalimantan, Ada Pesan yang Perlu Didengar
Bagi masyarakat Kalimantan, persoalannya mungkin sederhana.
Mereka tidak meminta semua orang untuk terus-menerus mengonsumsi berita buruk.
Mereka juga tidak menolak pentingnya kesehatan mental.
Namun ketika rumah mereka berada di tengah kepulan asap, ketika sekolah dan aktivitas terganggu, ketika orang-orang harus menggunakan masker dan ketika relawan harus turun langsung ke lapangan, maka persoalan lingkungan tidak bisa hanya diperlakukan sebagai sesuatu yang perlu dijauhkan dari pikiran.
Karena bagi mereka, persoalan itu sudah berada di depan mata.
Mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar menjauh dari bad news, tetapi memastikan bahwa mereka yang masih punya pilihan untuk mengambil jeda juga tidak melupakan mereka yang tidak punya pilihan tersebut.
Di titik inilah mindfulness dan kepedulian sosial dapat berjalan bersama: menjaga diri agar tetap kuat, sekaligus tetap membuka mata terhadap realitas orang lain.
Sebab bagi sebagian warga Kalimantan, berita buruk bukan sesuatu yang bisa di-scroll ke bawah. Ia adalah udara yang mereka hirup setiap hari.
