
JAKARTA, KDK NEWS — Kreator konten sekaligus pegiat lingkungan Ferry Irwandi mengungkap pengalaman yang membuatnya khawatir. Ia mengaku telah dibuntuti oleh orang tak dikenal atau OTK selama berminggu-minggu dan bahkan sempat mendokumentasikan kendaraan yang diduga mengikuti pergerakannya.
Dalam pemberitaan pada 2 Oktober 2026, Ferry menyebut kendaraan tersebut beberapa kali berada di belakangnya. Salah satu kendaraan yang didokumentasikan terlihat menggunakan nomor polisi B 1592 POU. Namun, identitas pemilik maupun pengemudi kendaraan tersebut hingga kini belum dapat dipastikan.
Laporan lain menyebut pelat nomor yang digunakan kendaraan tersebut diduga palsu. Karena itu, nomor polisi yang terlihat dalam dokumentasi tidak dapat begitu saja dijadikan dasar untuk mengidentifikasi pemilik kendaraan sebagai pihak yang membuntuti Ferry.
Aktivitas Ferry di Kalimantan Barat
Dugaan pembuntutan tersebut menjadi perhatian setelah sebelumnya Ferry cukup aktif melakukan kegiatan di Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat.
Pada 23 Agustus 2026, Ferry bertemu dengan pegiat lingkungan Andrew Kalaweit untuk membahas kondisi Kalimantan serta kebutuhan bantuan yang dianggap mendesak di tengah situasi karhutla.
Tiga hari kemudian, 26 Agustus, Ferry tiba di Pontianak dan langsung bergerak menuju lokasi kebakaran hutan dan lahan. Bersama tim, ia melakukan aerial mapping untuk memetakan titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau dari darat.
Pemetaan tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi lokasi dan koordinat titik api yang kemudian dapat dibagikan kepada petugas, relawan maupun pihak terkait. Ferry juga membawa ratusan masker full face dari Jakarta untuk membantu masyarakat dan petugas yang menghadapi kabut asap.
Dari Pontianak, aktivitas Ferry berlanjut ke Kubu Raya. Pada 28 Agustus, ia bersama tim turut membantu penanganan karhutla sebelum melanjutkan perjalanan ke Kayong Utara.
Di Kayong Utara, tim Ferry menemukan kobaran api yang semakin mendekati permukiman. Keterbatasan petugas, relawan dan sumber air membuat Ferry bersama timnya ikut menurunkan perlengkapan untuk membantu memutus rambatan api.
Pada periode yang sama, Ferry juga menyalurkan bantuan dari masyarakat kepada petugas dan relawan yang bekerja di tengah kondisi karhutla.
Dari Karhutla ke Isu Perlindungan Hutan
Aktivitas Ferry tidak berhenti pada bantuan langsung di lapangan.
Pada September 2026, ia menginisiasi gerakan “Patungan untuk Hutan”, sebuah penggalangan dana dengan target Rp50 miliar untuk memperkuat perlindungan hutan di Kalimantan.
Hingga 18 September, Katadata melaporkan dana yang terkumpul telah melewati Rp8 miliar. Dana tersebut direncanakan disalurkan kepada kelompok masyarakat yang memiliki legalitas, rekam jejak dan wilayah kerja yang jelas untuk kegiatan mitigasi karhutla, restorasi ekosistem dan penanaman sekitar 1,5–1,6 juta bibit pohon.
Dalam pernyataannya, Ferry juga menekankan bahwa penggalangan dana masyarakat tidak dimaksudkan untuk menggantikan tanggung jawab pemerintah.
Ia justru meminta pemerintah menggunakan instrumen negara untuk menegakkan sanksi terhadap perusahaan yang terbukti melanggar dan menyebabkan karhutla, menutup kanal-kanal yang dinilai mengurangi air di lahan gambut, serta membuat aturan pencegahan pembakaran pada musim kemarau.
Soroti Industri Sawit
Sikap Ferry terhadap persoalan sawit juga muncul secara terbuka pada September.
Pada 14 September, Ferry mengkritik rencana penyelenggaraan Indonesian Palm Oil Smallholders Conference and Expo (IPOSC) 2026 di Kubu Raya yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September.
Kritiknya disampaikan di tengah kondisi karhutla dan kabut asap yang masih berdampak terhadap masyarakat Kalimantan Barat.
Ferry mempertanyakan penyelenggaraan kegiatan bertema sawit ketika masyarakat masih menghadapi dampak asap. Dalam unggahannya, ia juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai ketamakan korporasi sawit dan mengaitkannya dengan persoalan kerusakan alam di Kalimantan, Papua dan Sumatera.
Namun, kritik tersebut merupakan pandangan Ferry mengenai persoalan lingkungan, bukan bukti bahwa industri sawit atau perusahaan tertentu berada di balik dugaan pembuntutan terhadap dirinya.
Bagaimana dengan Peladang?
Dalam isu pembukaan lahan, posisi Ferry juga tidak sesederhana menyalahkan masyarakat yang melakukan pembakaran lahan secara tradisional.
Dalam rangkaian pembahasannya mengenai karhutla, Ferry menyoroti masyarakat yang hidup bersama hutan serta pentingnya perlindungan terhadap masyarakat adat.
Ia juga menekankan perlunya membedakan persoalan masyarakat yang memiliki praktik pengelolaan lahan secara tradisional dengan persoalan pembukaan dan eksploitasi hutan dalam skala besar.
Karena itu, tidak tepat jika seluruh aktivitas pembakaran lahan langsung diarahkan kepada peladang sebagai penyebab tunggal karhutla.
Mengapa Dugaan Pembuntutan Ini Menjadi Pertanyaan?
Rangkaian aktivitas Ferry di Kalimantan menunjukkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir ia memang cukup aktif membahas persoalan karhutla, hutan, gambut, pembukaan lahan, industri sawit, masyarakat penjaga hutan serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti menyebabkan kebakaran.
Namun demikian, sampai saat ini belum ditemukan bukti yang dapat memastikan bahwa aktivitas tersebut merupakan alasan Ferry diduga dibuntuti.
Begitu pula belum ada dasar untuk menyimpulkan siapa pihak yang berada di balik kendaraan tersebut.
Nomor polisi B 1592 POU yang terlihat dalam dokumentasi hanya merupakan bagian dari informasi visual mengenai kendaraan. Jika benar pelat tersebut palsu, identifikasi pemilik melalui nomor tersebut semakin tidak dapat dijadikan dasar kesimpulan.
Siapa yang Membuntuti?
Pertanyaan terbesar hingga kini masih terbuka:
Siapa yang berada di balik kendaraan tersebut?
Mengapa Ferry diduga dibuntuti selama berminggu-minggu?
Apakah kendaraan tersebut memang mengikuti Ferry dalam rangkaian perjalanan yang sama, atau terdapat penjelasan lain?
Dan yang paling penting, apakah dugaan pembuntutan tersebut berkaitan dengan aktivitas Ferry dalam mengangkat isu karhutla dan perlindungan hutan, atau sama sekali tidak berkaitan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan bukti, bukan spekulasi.
Pemeriksaan CCTV, rekaman perjalanan, dokumentasi kendaraan, keterangan saksi dan penyelidikan aparat akan jauh lebih menentukan daripada mencoba mencari identitas seseorang hanya berdasarkan nomor polisi.
Fakta belum selesai. Siapa di balik kendaraan tersebut masih menjadi misteri.