
KATINGAN – Operasi penangkapan seorang bandar narkoba yang merupakan residivis di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kalimantan Tengah, berubah menjadi tragedi berdarah. Seorang anggota Satresnarkoba Polres Katingan dilaporkan tewas, sementara dua anggota lainnya masih hilang setelah tim diserang oleh sekelompok warga yang diduga membawa parang dan senjata api rakitan.
Peristiwa bermula setelah Satresnarkoba Polres Katingan menerima informasi masyarakat pada Rabu (1/7/2026) mengenai maraknya peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei. Hasil penyelidikan mengarah kepada seorang pria berinisial BIO, yang disebut merupakan residivis kasus narkotika.
Dipimpin langsung Kasat Resnarkoba, sebanyak 12 personel diberangkatkan menuju lokasi. Sekitar pukul 00.30 WIB, tim tiba di desa dan dibagi menjadi dua kelompok. Tim pertama mendatangi rumah target, sedangkan tim kedua bersiaga di sekitar SMP setempat.
Saat petugas memperkenalkan diri dan mengamankan BIO, situasi mendadak berubah mencekam. Seorang pria dari arah dapur disebut menyerang anggota menggunakan parang. Serangan itu berhasil digagalkan. Namun tak lama kemudian, dua pria lain muncul dari dalam rumah sambil mengacungkan parang dan mengayunkannya ke arah Kasat Resnarkoba.
Petugas sempat melepaskan tembakan peringatan, tetapi menurut laporan, serangan terus berlanjut. Dalam situasi yang dinilai mengancam keselamatan anggota, tembakan pelumpuh dilepaskan hingga salah seorang penyerang roboh di depan pintu rumah.
Insiden tersebut memicu kepanikan. Tangisan keluarga korban mengundang kedatangan warga sekitar. Suasana kemudian berubah menjadi kerusuhan ketika massa disebut berdatangan membawa parang, balok kayu, hingga senjata api rakitan untuk mengejar anggota kepolisian.
Terdesak oleh jumlah massa yang semakin banyak, tim Satresnarkoba berupaya menyelamatkan diri. Sebagian anggota melompat ke sungai dan bertahan di sebuah pulau kecil di tengah aliran sungai. Bahkan Kasat Resnarkoba dilaporkan ikut terjun ke sungai demi menghindari amukan massa.
Di tengah kepungan, tim meminta bantuan ke Polres Katingan dan Polsek Katingan Tengah. Sementara itu, tim kedua yang hendak mencari pertolongan juga menghadapi pengejaran dan penghadangan oleh sejumlah orang bersenjata. Meski demikian, mereka akhirnya berhasil mencapai Polsek Katingan Tengah untuk meminta bantuan.
Kondisi tim pertama semakin kritis. Saat mencoba berenang menyelamatkan diri, tiga anggota dilaporkan kelelahan. Menurut laporan, mereka sempat berkata, “Saya menyerah,” sebelum kembali ke tepian sungai yang telah dipenuhi warga.
Hingga proses evakuasi dilakukan, sembilan anggota berhasil diselamatkan. Namun, Aipda Yudhie ditemukan meninggal dunia di sebuah lanting. Sementara Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana hingga kini masih belum diketahui keberadaannya. Aparat gabungan masih melakukan pencarian dan penyisiran di sepanjang aliran sungai untuk menemukan kedua anggota tersebut.
Peristiwa ini menjadi salah satu insiden paling dramatis yang dihadapi aparat dalam operasi pemberantasan narkotika di wilayah tersebut. Hingga kini, kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kronologi lengkap kejadian serta pihak-pihak yang diduga terlibat dalam penyerangan terhadap petugas. (*/kdk)