
PONTIANAK, KDK.News – Indonesia Millennials Center (IMC) Wilayah Kalimantan Barat menggelar dialog publik bertajuk Persatuan Nasional dalam Manifestasi Pembangunan Wilayah Kalimantan Barat di Athena Kopitiam, Pontianak, Senin (22/6/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi, tokoh masyarakat, dan pemuda untuk membahas pentingnya menjaga persatuan sebagai fondasi pembangunan daerah.
Diskusi yang berlangsung dinamis itu menghasilkan berbagai gagasan strategis mengenai penguatan kerukunan sosial, moderasi lintas etnis, hingga peran generasi muda dalam mengawal pembangunan Kalimantan Barat yang inklusif dan berkelanjutan.
Ketua Umum Mangkok Merah Kalbar, Iyen Bagago, menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak akan berjalan maksimal tanpa stabilitas sosial yang kuat. Menurutnya, masyarakat Kalbar yang terdiri dari berbagai etnis harus terus menjaga semangat gotong royong dan saling mendukung dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Ia juga menyoroti pentingnya penggunaan media sosial secara bijak di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, media sosial harus dimanfaatkan sebagai ruang edukasi, penyampaian aspirasi, dan kritik yang membangun, bukan sebagai sarana yang memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Sementara itu, Akademisi FISIP Universitas Tanjungpura sekaligus Sekretaris Jenderal Moderasi Lintas Agama dan Etnis Kalbar, Firdaus, menekankan perlunya pola pikir yang terstruktur dan filosofis dalam menghadapi berbagai persoalan sosial. Ia mengingatkan bahwa kritik terhadap pembangunan maupun kebijakan pemerintah merupakan bagian dari demokrasi, namun harus disertai solusi yang konkret dan berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.
Menurut Firdaus, masyarakat Kalbar perlu terus memperkuat budaya dialog dan nalar kritis agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi konflik yang merugikan kehidupan bersama.
Di sisi lain, Direktur IMC Wilayah Kalimantan Barat sekaligus inisiator kegiatan, Hernandes Tino Raut, menegaskan bahwa persatuan nasional harus diwujudkan secara nyata dalam setiap proses pembangunan daerah. Ia mengingatkan bahwa Kalimantan Barat memiliki pengalaman sejarah yang panjang dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman.
Hernandes menilai tantangan politik nasional di masa depan tidak boleh menjadi alasan bagi masyarakat untuk terpecah. Sebaliknya, semangat gotong royong yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kalbar harus terus dipertahankan sebagai modal sosial dalam menghadapi berbagai dinamika yang ada.
“Ketika kita dihadapkan pada berbagai kepentingan politik nasional, masyarakat Kalbar harus tetap mengedepankan persatuan. Kita telah membuktikan bahwa kerukunan dapat dijaga melalui semangat kebersamaan dan gotong royong,” ujarnya.
Melalui dialog tersebut, para peserta berharap lahir rekomendasi yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada penguatan persatuan nasional di Kalimantan Barat.