ANTU ALOK REPUBLIK: MENAGIH JANJI IKHTIAR PEMBANGUNAN DI TANAH KALIMANTAN BARAT

sumber dokumentasi landak pusat informasi
oleh melandri
Setiap bulan Agustus, kita merayakan hari kemerdekaan dengan begitu meriah. Ornamen khas kemerdekaan bertebaran di mana-mana mulai dari umbul-umbul di sepanjang jalan hingga cat warna merah putih. Dalam upacara kenegaraan, kita sering mendengar pidato berapi-api dari para pejabat. Namun, ada satu hal yang membuat kita bertanya-tanya: apakah kemerdekaan ini betul-betul sudah dirasakan oleh masyarakat, atau sekadar manisnya omongan pejabat dari tahun ke tahun?
Bicara tentang Kalimantan Barat berarti berbicara tentang wilayah yang subur dan kaya akan sumber daya alam, seperti kelapa sawit, kopra, karet, kratom, batu bara, hingga bauksit. Namun, kelimpahan tersebut tidak menjamin hadirnya fasilitas yang memadai, seperti jalan pedalaman, akses listrik, layanan kesehatan, dan pendidikan. Berdasarkan data BPS, persentase penduduk miskin di Kalimantan Barat berada di angka 5,78 persen menjadikannya provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Pulau Kalimantan.
Bicara tentang Kalimantan Barat berarti berbicara tentang wilayah yang subur dan kaya akan sumber daya alam, seperti kelapa sawit, kopra, karet, kratom, batu bara, hingga bauksit. Namun, kelimpahan tersebut tidak menjamin hadirnya fasilitas yang memadai, seperti jalan pedalaman, akses listrik, layanan kesehatan, dan pendidikan. Berdasarkan data BPS, persentase penduduk miskin di Kalimantan Barat berada di angka 5,78 persen menjadikannya provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Pulau Kalimantan.
Bicara tentang Kalimantan Barat berarti berbicara tentang wilayah yang subur dan kaya akan sumber daya alam, seperti kelapa sawit, kopra, karet, kratom, batu bara, hingga bauksit. Namun, kelimpahan tersebut tidak menjamin hadirnya fasilitas yang memadai, seperti jalan pedalaman, akses listrik, layanan kesehatan, dan pendidikan. Berdasarkan data BPS, persentase penduduk miskin di Kalimantan Barat berada di angka 5,78 persen menjadikannya provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Pulau Kalimantan. Rasa kemerdekaan masih sangat jauh bagi warga pedalaman yang harus bertaruh nyawa melewati jalan berlumpur saat sakit, serta anak-anak yang belum bisa menikmati listrik dan internet secara stabil untuk belajar
Pertanyaan paling mendasar: sudahkah negara hadir bagi mereka yang benar-benar membutuhkan, atau keberadaan negara hanya menjadi antu alok (pembohong besar dalam bahasa Dayak Kanayatn)? Kami tidak meminta hal yang berlebihan, kami hanya menuntut agar hak-hak kami tidak diabaikan oleh negara. Kami percaya pemerintah mengusahakan yang terbaik, tetapi sungguh, terlalu lama bagi masyarakat Kalimantan Barat jika harus terus menunggu
