
PONTIANAK UTARA — Semangat pelestarian budaya lokal kembali menguat di Kalimantan Barat. Pembangunan Rumah Adat Radakng Samilik resmi dimulai pada 11 April 2026 di kawasan Batu Layang, Jalan Panca Bakti, Pontianak Utara. Proyek ini hadir sebagai inisiatif strategis untuk memperkuat identitas budaya Dayak sekaligus menciptakan ruang kolektif bagi masyarakat dalam menjaga, mengembangkan, dan mempromosikan warisan leluhur.
Rumah Radakng Samilik tidak sekadar dibangun sebagai struktur fisik, melainkan sebagai simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat Dayak di wilayah perkotaan. Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, kehadiran rumah adat ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai tradisi tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat masa kini.
Menghidupkan Filosofi Rumah Panjang di Era Modern
Secara arsitektural, Rumah Radakng Samilik mengusung konsep rumah panjang khas Dayak yang telah dikenal sebagai simbol kehidupan komunal. Struktur panggung, penggunaan material kayu, serta detail ukiran etnik tetap dipertahankan sebagai elemen utama. Namun, desainnya juga disesuaikan dengan kebutuhan masa kini melalui sentuhan modern, baik dari sisi fungsi ruang maupun tata kawasan.
Konsep ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi dan adaptasi terhadap perkembangan zaman. Rumah radakng pada dasarnya bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga pusat interaksi sosial, tempat musyawarah, hingga ruang pelaksanaan ritual adat. Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan kembali dalam pembangunan Rumah Radakng Samilik sebagai ruang bersama yang inklusif.
Pendiri sekaligus penggagas proyek, Marsianus Mustam, S.H, menjelaskan bahwa nama Samilik dipilih dengan pertimbangan makna yang mendalam.
“Samilik berarti milik bersama. Rumah Radakng ini kami hadirkan sebagai rumah bagi seluruh masyarakat Dayak, tanpa membedakan sub-suku maupun latar belakang,” ungkapnya.
Menurutnya, pembangunan ini bertujuan memperkuat rasa persatuan di tengah keberagaman internal masyarakat Dayak yang tersebar di wilayah Pontianak Utara.
Dari Persatuan hingga Destinasi Wisata Budaya
Selain sebagai simbol persatuan, Rumah Radakng Samilik juga dirancang untuk menjadi destinasi wisata budaya yang representatif. Kawasan ini nantinya akan difungsikan sebagai pusat kegiatan adat, pertunjukan seni, hingga edukasi budaya bagi generasi muda.
Marsianus menyebutkan bahwa proyek ini ditargetkan rampung dalam waktu satu tahun. Proses pembangunannya melibatkan partisipasi berbagai pihak, mulai dari masyarakat Dayak Borneo, kalangan pengusaha, perusahaan, hingga para donatur.
Pendekatan pembiayaan berbasis gotong royong ini menjadi cerminan nilai solidaritas yang masih kuat dalam masyarakat Dayak. Tidak hanya membangun fisik bangunan, tetapi juga memperkuat rasa memiliki secara kolektif.
“Kami ingin rumah ini benar-benar menjadi milik bersama. Karena itu, partisipasi masyarakat sangat penting dalam proses pembangunannya,” tambahnya.
Simbol Enggang dan Ruang Terbuka Hijau
Sebagai bagian dari pengembangan kawasan, Rumah Radakng Samilik juga akan dilengkapi dengan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai area publik. Selain itu, akan dibangun patung burung enggang—ikon yang memiliki makna simbolik kuat dalam budaya Dayak.
Ketua Organisasi Mangkok Merah Kalimantan Barat (MMKB), Iyen Bagago, menjelaskan bahwa burung enggang bukan sekadar simbol visual, melainkan representasi nilai-nilai luhur masyarakat Dayak.
“Burung enggang melambangkan kebesaran, kekuatan, kebebasan, dan kepemimpinan. Dalam konteks budaya Dayak, simbol ini juga berkaitan dengan status sosial dan spiritual,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa rumah radakng sendiri merupakan simbol kehidupan komunal, di mana masyarakat hidup berdampingan dalam satu kesatuan.
“Rumah radakng itu gambaran hidup bertetangga. Satu rumah, banyak keluarga, tetapi tetap dalam harmoni,” ujarnya.
Keberadaan simbol-simbol ini diharapkan mampu memperkuat nilai edukatif kawasan, sehingga tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang filosofi budaya Dayak kepada pengunjung.
Pentingnya Pelestarian di Tengah Modernisasi
Di tengah perkembangan kota dan perubahan gaya hidup masyarakat, pelestarian rumah adat menjadi tantangan tersendiri. Iyen Bagago menegaskan bahwa keberadaan Rumah Radakng Samilik menjadi langkah penting dalam menjaga identitas budaya.
“Pelestarian rumah adat sangat penting karena ini adalah kebanggaan masyarakat Dayak. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?” tegasnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran akan semakin berkurangnya ruang-ruang budaya tradisional di kawasan perkotaan. Oleh karena itu, pembangunan rumah adat seperti ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan budaya di masa depan.
Ruang Kolaborasi bagi Pelaku Seni
Dari sisi pelaku seni, pembangunan Rumah Radakng Samilik disambut dengan antusias. Ketua Sanggar Andesta sekaligus Ketua Forum Pemuda Dayak Pontianak Utara, Pisia Handatria A.md.kom, melihat proyek ini sebagai peluang besar untuk memperluas ruang ekspresi budaya.
“Kami sangat mendukung pembangunan ini. Ini bukan hanya tentang bangunan, tetapi tentang membuka ruang kolaborasi bagi pelaku seni dan budaya,” katanya.
Menurutnya, kehadiran rumah adat ini justru akan memperkuat aktivitas seni yang selama ini telah berjalan. Sanggar-sanggar budaya dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk menggelar pertunjukan, pelatihan, maupun kegiatan edukasi.
“Kami juga berencana berkolaborasi dalam berbagai kegiatan. Ini bisa menjadi pusat budaya yang hidup, bukan sekadar simbol,” tambahnya.
Ia optimistis bahwa keberadaan Rumah Radakng Samilik akan memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan pelaku seni lokal, terutama melalui peningkatan aktivitas wisata budaya.
Harapan Menjadi Pusat Budaya dan Identitas Baru
Pembangunan Rumah Radakng Samilik dijadwalkan akan melalui prosesi peletakan batu pertama yang dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah, tokoh adat, serta organisasi masyarakat. Dukungan luas dari berbagai pihak menunjukkan bahwa proyek ini memiliki nilai strategis, tidak hanya secara budaya tetapi juga sosial dan ekonomi.
Masyarakat setempat pun menyambut pembangunan ini dengan penuh harapan. Selain menjadi kebanggaan baru, Rumah Radakng Samilik diharapkan mampu memperkuat identitas budaya Dayak di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Barat.
Lebih jauh, keberadaan rumah adat ini juga diproyeksikan sebagai pusat edukasi bagi generasi muda. Di tengah derasnya pengaruh globalisasi, ruang-ruang seperti ini menjadi penting untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal secara kontekstual dan menarik.
Lebih dari Sekadar Bangunan
Rumah Radakng Samilik bukan sekadar proyek pembangunan infrastruktur, melainkan representasi dari semangat kolektif masyarakat Dayak dalam menjaga jati diri budaya. Dengan memadukan nilai tradisi dan pendekatan modern, proyek ini diharapkan mampu menjadi model pelestarian budaya yang adaptif dan berkelanjutan.
Jika terealisasi sesuai rencana, Rumah Radakng Samilik tidak hanya akan menjadi ikon baru di Pontianak Utara, tetapi juga simbol kebangkitan budaya Dayak di ruang publik perkotaan. Sebuah ruang yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menghidupkan tradisi untuk generasi masa depan. (*/kdk)