
SANGGAU – Kecelakaan maut yang melibatkan bus Damri di turunan Penyeladi, Kabupaten Sanggau, Minggu (5/4/2026), menyisakan pertanyaan serius soal kelayakan operasional kendaraan dan tanggung jawab pihak pengelola.
Peristiwa yang menewaskan satu orang dan melukai puluhan penumpang ini diduga kuat bukan sekadar kecelakaan biasa. Indikasi kelalaian mencuat setelah terungkap bahwa kondisi kendaraan telah lebih dulu dipertanyakan sebelum kejadian.
Bus Mercedes-Benz bernomor polisi KB 7710 S tersebut diketahui telah melakukan perjalanan panjang lintas kota sejak 3 April 2026. Dalam perjalanan itu, seorang sopir bernama Sandi disebut sempat melaporkan adanya gangguan pada kendaraan kepada pihak perusahaan.
Namun, alih-alih dilakukan pemeriksaan menyeluruh, bus tetap dioperasikan. Bahkan sehari sebelum kejadian, kendaraan masih digunakan mengangkut penumpang dari Ambawang menuju Sidomulyo, Pinoh.
Ironisnya, pada hari keberangkatan terakhir, sopir kembali mempertanyakan kondisi rem. Pihak perusahaan disebut menyatakan kendaraan dalam kondisi “siap jalan”. Pernyataan ini kini menjadi sorotan tajam, mengingat kecelakaan diduga dipicu oleh rem yang tidak berfungsi optimal di jalur turunan curam dan tikungan tajam.
Kondisi ini mengarah pada dugaan kuat adanya kelalaian dalam aspek keselamatan transportasi. Jika benar laporan kerusakan telah diabaikan, maka tragedi ini bukan sekadar musibah, melainkan kegagalan sistemik dalam manajemen armada dan pengawasan operasional.
Pakar transportasi menilai, setiap indikasi gangguan teknis—terutama pada sistem pengereman—seharusnya menjadi alasan mutlak untuk menghentikan operasional kendaraan. Mengabaikan hal tersebut berarti mempertaruhkan nyawa penumpang.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi terkait evaluasi internal maupun potensi sanksi terhadap pihak yang bertanggung jawab. Publik menuntut transparansi dan langkah tegas agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa keselamatan tidak boleh dikompromikan dengan alasan apa pun—terlebih dalam layanan transportasi publik yang menyangkut banyak nyawa.