
KUBU RAYA – Kegiatan bertajuk “Ngopi Bareng dan Safari CU dan Mangkok Merah Kubu Raya” digelar sebagai ajang silaturahmi sekaligus diskusi bersama tokoh masyarakat dan pengurus Mangkok Merah.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat solidaritas, memperkenalkan program organisasi, serta mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat Dayak melalui lembaga keuangan berbasis komunitas.
Acara diawali dengan salam pembuka oleh moderator Filemon Widodo, kemudian dilanjutkan dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Bartolomeus Acong, S.Ag., M.Pd.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dengan semangat kebersamaan yang ditandai dengan salam budaya dan semangat “Mangkok Merah kubu Raya.

Dalam sesi perkenalan dan penyampaian, Ketua Mangkok Merah Kubu Raya, Abet Nego, S.T., menyampaikan visi dan peran organisasi dalam menjaga nilai-nilai budaya serta mempererat persatuan masyarakat Dayak di wilayah Kubu Raya.
Sementara itu, Ketua Mangkok Merah Kalimantan Barat, Iyen, turut memberikan penguatan mengenai pentingnya menjaga identitas dan solidaritas masyarakat Dayak.
Kegiatan juga diisi dengan sosialisasi dari Credit Union Pancur Kasih (CUPK) yang disampaikan oleh Dinus, S.M., bersama tim.
Sosialisasi ini menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang baik serta peran Credit Union dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sistem keuangan berbasis anggota.Pada sesi wejangan dan penyampaian materi, Maria Sinyor, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Dewan Penasehat Mangkok Merah Kubu Raya menyampaikan materi tentang identitas Dayak serta pentingnya menjaga nilai-nilai budaya di tengah perkembangan zaman.Selain itu, Kartius, SH., M.Si., selaku Ketua Dewan Pembina DPP Mangkok Merah Kalimantan Barat memberikan orientasi kepada masyarakat Dayak mengenai peran organisasi serta pentingnya kesadaran hukum adat dan hukum positif dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan kemudian ditutup oleh moderator dan dilanjutkan dengan doa penutup yang dipimpin oleh Kolnatus Sugianto.Melalui kegiatan ini, diharapkan hubungan antaranggota dan masyarakat semakin erat serta mampu memperkuat peran Mangkok Merah dalam menjaga budaya, persatuan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.
dalam sesi tanya jawab Pemekaran Wilayah dan Optimalisasi Tata Guna Lahan,Dalam pertemuan terbaru mengenai pengembangan wilayah, sejumlah poin krusial terkait administrasi desa dan status lahan menjadi fokus utama. Pembahasan ini melibatkan tokoh masyarakat, termasuk Yohanes Sugianto dan perwakilan dari kelompok masyarakat lokal.
Pemekaran Kecamatan Sungai Ambawang Salah satu agenda utama yang mencuat adalah rencana pemekaran Kecamatan Kumpai.
Langkah ini diambil untuk mempercepat pelayanan publik dan distribusi pembangunan di wilayah tersebut. Pihak terkait menekankan pentingnya koordinasi intensif dengan DPR dan Pemerintah Pusat agar proses administrasi berjalan sesuai regulasi yang berlaku.Pertemuan ini juga menyoroti status lahan di beberapa wilayah yang masih memerlukan kejelasan hukum.
Beberapa poin penting yang dicatat antara lain:Status HGU dan Agraria: Perlunya penataan ulang terkait Hak Guna Usaha (HGU) dan sertifikasi tanah (Agraria) untuk menghindari konflik di masa depan.Wilayah Tiga Desa: Terdapat atensi khusus pada status lahan di tiga wilayah desa, yakni:Desa TumanggunDesa PasiramanDesa Pangaraga.
Peran Dewan Adat Dayak (DAD)
Dewan Adat Dayak (DAD) turut memberikan masukan strategis terkait pembagian wilayah kerja di tiga titik utama, yaitu:
- Sungai Raya
- Gunung Tamang
- Kaliampok
Selain itu, istilah “Mangkok Merah” sempat disinggung sebagai simbol koordinasi adat dan peringatan akan pentingnya menjaga stabilitas serta kearifan lokal dalam setiap proses pengambilan kebijakan pemerintah.