
Mempawah, 17 November 2025 – Penolakan keras disampaikan masyarakat adat Dusun Bilado dan warga di sekitar kawasan Bukit Loncek terkait rencana pembangunan fasilitas paralayang oleh pihak tertentu. Aksi penolakan digelar sebagai bentuk protes terhadap rencana pembangunan yang dinilai dapat mengganggu keksakralan dan kelestarian Bukit Loncek, yang selama ini dijaga sebagai warisan leluhur.
Dalam aksi tersebut, masyarakat membawa spanduk bertuliskan komitmen mereka menjaga situs adat. “Selamatkan Bukit Loncek. Seluruh masyarakat Dusun Bilado & sekitarnya menolak keras pembangunan paralayang yang melibatkan Bukit Loncek, bukit adat kami yang selama ini kami jaga dan kami pertahankan turun-temurun,” demikian salah satu kutipan sikap warga.
Masyarakat adat menegaskan bahwa Bukit Loncek merupakan kawasan keramat yang menyimpan situs sejarah, adat, dan nilai spiritual yang tidak dapat diganggu. Mereka menilai pembangunan fasilitas wisata ekstrem seperti paralayang berpotensi merusak keseimbangan alam dan mengganggu situs leluhur, sehingga bertentangan dengan komitmen menjaga kawasan tersebut dari generasi ke generasi.

Warga juga mengingatkan bahwa kawasan ini bukan sekadar bentang alam, melainkan himpun budaya yang diwariskan nenek moyang dan memiliki makna sakral bagi komunitas adat setempat. Pada aksi penolakan, warga mengangkat tangan sebagai simbol perlawanan sekaligus komitmen menjaga ruang adat. “Jangan di obok-obok tempat leluhur kami, kalau di obok-obok, dia akan murka,” tulis spanduk warga.
Dalam kesempatan itu, masyarakat menyerahkan Pernyataan Sikap kepada Sekdes Desa Kepayang, serta meminta pemerintah daerah, OPD terkait, dan pihak luar yang berencana membangun fasilitas tersebut untuk menghormati nilai sejarah dan spiritual Bukit Loncek dengan melibatkan masyarakat adat dalam setiap pengambilan keputusan.
Penolakan ini sekaligus menjadi seruan agar seluruh pihak menjaga kelestarian dan ruang hidup adat yang telah dijaga selama berabad-abad.
Sumber:
Warga Bilado, Bukit Loncek
Narsum: MR, Landak Informasi