
KALIMANTAN BARAT – Sebuah laporan dari The New York Times edisi Senin, 25 Agustus 2025, menyoroti maraknya penebangan hutan hujan di Kalimantan yang dikaitkan dengan produksi kendaraan rekreasi (R.V.) untuk pasar Amerika Serikat.
Menurut laporan The New York Times dan investigasi yang dilakukan oleh Earthsight bersama Auriga Nusantara, ribuan hektare hutan tropis di Kalimantan telah dibabat untuk menyediakan kayu meranti, yang menjadi material utama interior kendaraan rekreasi di AS.
Industri R.V. Amerika disebut menggunakan sekitar 500 pohon meranti per hari. Perusahaan pemasok seperti PT KLAM di Indonesia disebut menjadi salah satu penyedia kayu tersebut, yang kemudian masuk ke jaringan distribusi di AS melalui perusahaan seperti MJB Wood dan Tumac Lumber, yang memasok merek besar seperti Jayco, Thor Industries, Forest River, dan Winnebago.
Laporan ini juga menyoroti dampak serius terhadap keanekaragaman hayati. Hutan hujan Kalimantan merupakan habitat penting bagi orangutan, harimau, dan spesies langka lainnya. Hilangnya hutan akan memperparah ancaman kepunahan satwa tersebut.
Aktivis lingkungan mendesak pemerintah Indonesia dan pelaku industri global untuk memastikan rantai pasok bebas dari praktik ilegal yang merusak ekosistem. “Jika permintaan kayu ini tidak diawasi, maka deforestasi akan semakin cepat dan kerusakan lingkungan tak bisa dipulihkan,” ujar laporan Earthsight.
Sementara itu, Mongabay melaporkan bahwa tingkat deforestasi Indonesia meningkat pada 2024, sebagian besar dilakukan secara legal di dalam wilayah konsesi industri. Kondisi ini menambah kerumitan dalam menekan laju kehilangan hutan tropis di Kalimantan.
apakah mereka melakukannya dengan mengetahui dampak dan solusinya?
setelah mereka lukai tempat aman bagi para makhluk hidup, apa solusi yang diberikan?