
PONTIANAK – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi gerakan “Kalbar Revolusi” menggelar aksi unjuk rasa di halaman Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (5/11/2026) sore. Meski diguyur hujan deras, massa aksi tetap bertahan untuk menyampaikan sejumlah tuntutan kepada para wakil rakyat.
Aksi yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Tanjungpura (Untan) bersama berbagai elemen masyarakat tersebut diawali dengan long march dari Taman Digulis Untan menuju Gedung DPRD Kalbar di Jalan Ahmad Yani.
Iring-iringan massa sempat menyebabkan kepadatan arus lalu lintas di sepanjang jalur yang dilalui. Sementara itu, hujan deras membuat pelaksanaan orasi yang dijadwalkan berlangsung pukul 14.00 WIB mengalami keterlambatan.
Dalam aksi tersebut, massa menggelar orasi dan teatrikal sebagai bentuk penyampaian kritik terhadap sejumlah persoalan di Kalimantan Barat. Mereka juga menolak masuk ke dalam gedung DPRD dan meminta para anggota dewan turun langsung menemui demonstran di halaman terbuka, meskipun kondisi sedang diguyur hujan.

Desakan tersebut akhirnya direspons dengan keluarnya lima anggota DPRD Kalbar untuk menemui massa aksi. Pertemuan berlangsung di halaman gedung dewan, sementara perwakilan mahasiswa secara bergantian menyampaikan aspirasi dan tuntutan mereka.
Sedikitnya terdapat empat persoalan utama yang menjadi perhatian dalam gerakan “Kalbar Revolusi”.
Pertama, massa mendesak pengusutan tuntas kasus dugaan pemukulan dan kekerasan terhadap mahasiswa dalam gelombang aksi sebelumnya di Pontianak. Mereka meminta aparat penegak hukum menjalankan proses hukum secara transparan dan memberikan keadilan bagi para korban.
Kedua, massa menuntut keseriusan pemerintah daerah dalam menangani persoalan lingkungan, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir yang terus berulang di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Ketiga, mahasiswa mendesak transparansi pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Mereka menilai keterbukaan anggaran penting untuk memastikan penggunaan uang rakyat benar-benar berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Keempat, massa meminta pemerintah menjaga stabilitas harga bahan pokok agar kebutuhan masyarakat, terutama kelompok ekonomi kecil, tetap terjangkau.
Menanggapi tuntutan tersebut, anggota DPRD Kalbar yang hadir menyatakan menerima aspirasi mahasiswa dan berkomitmen menindaklanjutinya sesuai kewenangan lembaga legislatif.
Aksi berlangsung hingga menjelang petang. Massa kemudian membubarkan diri dengan tertib, meskipun kepadatan lalu lintas masih terjadi di sekitar kawasan Bundaran Digulis dan Jalan Ahmad Yani.
Aksi “Kalbar Revolusi” menjadi pengingat bahwa persoalan penegakan hukum, lingkungan, transparansi anggaran, dan kesejahteraan masyarakat masih menjadi perhatian serius mahasiswa dan elemen masyarakat di Kalimantan Barat.