
Serawai, KDK News – Masyarakat Adat Dayak Kecamatan Serawai yang tergabung dalam Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Jemaat Galilea Serawai menggelar ritual budaya Semayak Nipe Semoga Pari sebagai penanda dimulainya Tahun Baru Peladang, Minggu (21/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung GKE Galilea Serawai tersebut menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya ritual budaya Dayak dilaksanakan dalam rangkaian ibadah gereja sebagai bentuk akulturasi budaya dan kontekstualisasi iman Kristen.
Ibadah dilaksanakan dengan menggunakan beberapa bahasa daerah, yakni Bahasa Dayak Ut Damum, Limbai, Kubin, dan Melahui, mencerminkan keberagaman latar belakang jemaat yang bernaung di GKE Galilea Serawai.
Prosesi diawali dengan tarian adat yang mengiringi jemaat memasuki gereja sambil membawa berbagai perlengkapan berladang, benih tanaman, serta hasil panen. Seluruh persembahan kemudian dihantarkan melalui prosesi adat Malet Batu sebagai simbol dimulainya musim berladang sekaligus ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam kehidupan masyarakat peladang.
Tokoh Muda Dayak sekaligus penggagas kegiatan, Noven Honarius, mengatakan bahwa pelaksanaan ritual budaya di dalam gereja merupakan bentuk penghormatan terhadap identitas budaya Dayak yang tetap selaras dengan nilai-nilai kekristenan.
“Gereja tidak hadir untuk menghilangkan budaya Dayak, melainkan mengarahkan nilai-nilai budaya agar tetap sejalan dengan iman dan ajaran agama. Budaya adalah identitas, sementara iman menjadi arah dalam menjalani kehidupan,” ujarnya.
Menurut Noven, kontekstualisasi budaya dalam kehidupan bergereja juga menjadi langkah penting untuk merangkul generasi muda agar tetap mencintai warisan leluhur tanpa kehilangan dasar iman Kristen.
Ketua Majelis Jemaat GKE Galilea Serawai, Sellyana, menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan tersebut. Ia berharap Semayak Nipe Semoga Pari dapat menjadi tradisi yang terus dipelihara sebagai bentuk syukur kepada Tuhan sekaligus penghargaan terhadap budaya lokal.
Sementara itu, Majelis Pertimbangan Jemaat, Tormadi, menilai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa adat dan budaya tidak bertentangan dengan kehidupan bergereja.
“Gereja dapat menjadi ruang untuk melestarikan budaya yang baik sehingga masyarakat tetap bangga menjadi orang Dayak sekaligus setia sebagai orang Kristen,” katanya.
Acara ditutup dengan pesan dari tokoh masyarakat adat, Panji, yang mengajak generasi muda untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi Semayak Nipe Semoga Pari sebagai warisan budaya yang sarat nilai syukur, kebersamaan, dan penghormatan kepada Tuhan.
Pelaksanaan ritual budaya ini menjadi bukti bahwa gereja dan budaya dapat berjalan berdampingan dalam membangun masyarakat yang beriman, berbudaya, serta tetap menghargai warisan leluhur sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia.