
SEMARANG – Kondisi Asrama Mahasiswa Kalimantan Barat (Rahadi Oesman) yang terletak di Jalan Kendeng VI Nomor 4, Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah, semakin memprihatinkan. Bangunan dua lantai seluas 375 meter persegi dengan 17 kamar yang dihuni 12 mahasiswa asal Kalbar itu mengalami kerusakan serius, terutama pada bagian plafon dan atap.
Yulius Yogi, salah satu penghuni sekaligus Ketua Asrama Mahasiswa Kalimantan Barat Semarang, menyampaikan bahwa kerusakan justru semakin parah pasca kunjungan Badan Penghubung Provinsi Kalimantan Barat (BANHUB) pada 15 Oktober 2025 lalu.

“Awalnya plafon ambruk hanya di satu kamar, yaitu kamar nomor 1. Sekarang bertambah menjadi kamar nomor 5, sementara kamar 2, 3, 4, dan 6 sudah tidak layak huni karena rembesan air. Bahkan kanopi lantai atas juga hancur diterpa angin,” ujar Yulius.

Ia menambahkan, meski BANHUB telah melihat langsung kondisi asrama, hingga kini belum ada langkah pencegahan sementara untuk meminimalisir kerusakan. Padahal, kondisi bangunan terus memburuk, terlebih saat musim hujan.
Hal senada disampaikan Pelaksana Tugas Ketua Umum Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Barat (KPMKB) Semarang, Melandri. Ia menilai kondisi asrama sudah berada pada tahap darurat dan berpotensi membahayakan keselamatan penghuni.

“Kami hanya meminta solusi sementara yang paling urgent, yaitu pembenahan plafon agar tidak kembali ambruk dan menimpa penghuni. Jangan menunggu renovasi total di tahun 2026, sementara kondisi sekarang kian hancur,” tegas Melandri.

Melandri juga mengungkapkan bahwa pada 2 Agustus 2024 lalu, asrama sempat dikunjungi penyidik Polda Kalbar untuk memastikan RAB pasca renovasi akhir tahun 2022. Namun hingga kini, hasil renovasi tersebut justru dipertanyakan karena kondisi bangunan kembali rusak parah.
Sementara itu, Majelis Perwakilan Pusat (MPP) KPMKB Nasional, Santos Lubis, membenarkan bahwa kondisi asrama sangat mengkhawatirkan dan nyaris menelan korban.
“Asrama ini aset daerah. Sudah dikunjungi BANHUB, tapi kenapa tidak ada solusi pencegahan sementara? Plafon itu paling urgent. Ini bukan informasi biasa, ini harus segera ditindaklanjuti karena rawan runtuh sewaktu-waktu,” tegas Santos.
Ia juga menyebutkan bahwa para mahasiswa telah berupaya semaksimal mungkin melakukan pencegahan darurat, seperti memasang terpal di kanopi lantai atas agar air hujan tidak langsung merembes ke kamar-kamar di bawah.
Diketahui, persoalan kondisi Asrama Mahasiswa Kalbar di Semarang ini bukan kali pertama mencuat ke publik. Bahkan, permasalahan serupa telah beberapa kali diberitakan sebelumnya. Namun hingga kini, belum tampak solusi nyata yang benar-benar menjamin keselamatan dan kelayakan hunian bagi para mahasiswa.
Para penghuni berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, khususnya Badan Penghubung di Jakarta, segera mengambil langkah konkret agar kerusakan tidak semakin parah dan tidak menunggu hingga terjadi korban jiwa.