
PONTIANAK – Nama Dio Manik dikenal luas sebagai salah satu tokoh seniman manik-manik Dayak yang konsisten menjaga keaslian dan pakem tradisi dalam setiap karyanya. Puluhan tahun berkarya, Dio tak hanya menghasilkan busana bermotif manik khas Dayak, tetapi juga turut mengangkat identitas budaya Kalimantan Barat hingga ke tingkat nasional dan internasional.
Fokus utama Dio Manik adalah desain busana tradisional Dayak berbahan manik-manik. Ia mengerjakan berbagai jenis pakaian adat, mulai dari rompi, hiasan wajah, hingga busana khusus untuk acara adat, festival budaya, dan kegiatan resmi. Seluruh karyanya dibuat berdasarkan pesanan dengan ukuran yang disesuaikan, sehingga setiap produk memiliki nilai eksklusif.

Dalam proses pengerjaan, Dio sangat memperhatikan kualitas bahan. Manik berukuran halus membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama. Untuk satu potong busana berbahan manik halus, pengerjaan bisa memakan waktu hingga dua minggu.
“Semakin kecil dan halus maniknya, semakin lama pengerjaannya,” ujarnya.

Karya Dio Manik kerap digunakan dalam berbagai ajang budaya Dayak, mulai dari tingkat daerah hingga nasional. Bahkan, hasil karyanya pernah digunakan dalam kegiatan budaya di Belanda. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri karena mampu memperkenalkan kekayaan seni Dayak ke mancanegara.
“Itu cukup mengangkat nama Dayak, karena mereka sangat antusias dengan busana tradisi,” katanya.
Meski mengikuti perkembangan zaman, Dio tetap teguh mempertahankan pakem tradisi. Ia menolak mengubah motif dan makna manik-manik secara berlebihan demi kesan glamor. Menurutnya, pakem adalah identitas yang tidak boleh hilang agar tidak terjadi distorsi sejarah budaya bagi generasi mendatang.

Perjalanan Dio Manik sebagai perajin dimulai sejak tahun 1984 saat masih duduk di bangku SMA. Keahlian tersebut diwariskan dari keluarga dan diasah melalui pengalaman panjang. Dukungan dari berbagai tokoh adat, termasuk Raja Mempawah ke-13, semakin memotivasi Dio untuk terus berkarya dan berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisi.
Kini, Dio Manik bukan sekadar perajin, tetapi simbol dedikasi dalam menjaga warisan budaya Dayak melalui seni manik-manik yang bernilai seni, budaya, dan ekonomi.